Landasan Filosofis dan Harapan Kurikulum

Pendidikan berperan sangat penting dalam keseluruhan aspek kehidupan manusia, sebab pendidikan berpengaruh langsung kepada kepribadian ummat manusia. Pendidikan sangat menentukan terhadap model manusia yang dihasilkannya. Kurikulum sebagai rancangan pendidikan, mempunyai kedudukan sentral; menentukan kegiatan dan hasil pendidikan. Penyusunannya memerlukan fondasi yang kuat, didasarkan atas hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Kurikulum yang lemah akan mengahasilkan manusia yang lemah pula.

Pendidikan merupakan interaksi manusia pendidik dan terdidik untuk mencapai tujuan pendidikan. Interaksi pendidik dan terdidik dalam pencapaian tujuan, bagimana isi, dan proses pendidikan memerlukan fondasi filosofis, agar interaksi melahirkan pengertian yang bijak dan perbuatan yang bijak pula. Untuk mengerti kebijakan dan berbuat secara bijak, ia harus tahu dan berpengetahuan yang diperoleh melalui cara berfikir sistematis, logis dan mendalam, secara radikal, hingga keakar-akarnya. Upaya menggambarkan dan menyatakan suatu pemikiran yang sistematis dan komprehensif tentang suatu fenomena alam dan manusia disebut berfikir secara filosofis. Filsafat mencakup suatu kesatuan pemikiran manusia yang menyeluruh.

Landasan Filosofis Kurikulum
Pendekatan Ilmu dengan filsafat berbeda, ilmu menggunakan pendekatan analitik, mengurai bagian-bagian hingga bagian yang terkecil. Filsafat mengintegrasikan bagian-bagian hingga menjadi satu kesatuan yang menyeluruh dan bermakna. Ilmu berkaitan dengan fakta-fakta sebagaimana adanya, secara objektif dan menghindari subjektifitas. Filsafat melihat sesuatu secara das sollen (bagaimana seharusnya), faktor subjektif sangat berpengaruh. Tetapi filsafat dan ilmu memiliki hubungan secara komplenter; saling melengkapi dan mengisi. Filsafat memberikan landasan bagi ilmu, baik pada aspek ontologi, epistimologi, maupun aksiologinya.

Dalam konteks pendidikan, filsafat pendidikan adalah refleksi pemikiran filosofis untuk mengatasi permasalahan pendidikan. Filsafat memberi arah dan metodologi terhadap praktik pendidikan, sebaliknya praktik pendidikan memberikan bahan-bahan bagi pertimbangan-pertimbangan filosofis. Menurut Butler (1957:12), hubungan filsafat dengan filsafat pendidikan sebagai berikut:
1) Filsafat merupakan basic/dasar bagi filsafat pendidikan,
2) Filsafat merupakan bunga bukan batang bagi pendidikan,
3) Filsafat pendidikan merupakan disiplin tersendiri yang memiliki hubungan erat dengan filsafat umum, meski bukan essensinya, dan
4) Filsafat dan teori pendidikan adalah satu.

Harapan Kurikulum
Perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di dalam negeri dan isu-isu mutakhir dari luar negeri yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia merupakan hal-hal yang harus segera ditanggapi dan dipertimbangkan dalam penyusunan kurikulum baru pada setiap jenjang pendidikan. Buat apa membuat kurikulum baru, kalau kemasannya masih juga lama. Atau bikin kurikulum baru, tapi paradigma yang digunakan masih paradigma lama. Sehingga tak berbekas dan bermakna dalam kenyataan hidup sehari-hari.

Beberapa hal yang melatarbelakangi penyusunan kurikulum baru antara lain:
1. Adanya peraturan penundang-undangan yang baru telah membawa implikasi terhadap paradigma pengembangan kurikulum pendidikan dasar dan menengah antara lain pembaharuan dan divensifikasi kurikulum, serta pembagian kewenangan pengembangan kurikulum.
2. Perkembangan dan perubahan global dalam berbagai aspek kehidupan yang datang begitu cepat telah menjadi tantangan nasional dan menuntut perhatian segera dan serius.
3. Kondisi masa sekarang dan kecenderungan di masa yang akan datang perlu dipersiapkan generasi muda termasuk peserta didik yang memiliki kompetensi yang multidimensional.
4. Pengembangan kurikulum harus dapat mengantisipasi persoalan-persoalan bangsa yang mempunyai kemungkinan besar sudah dan/atau akan terjadi.

Kurikulum yang dibutuhkan di masa depan adalah kurikulum yang mampu memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan, ketidakmenentuan, ketidakpastian, dan kesulitan dalam kehidupan. Oleh karena itu kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional. Penyempurnaan kurikulum dilakukan secara responsif terhadap penerapan hak asasi manusia, kehidupan demokratis, persatuan dan kesatuan, kepastian hukum, kehidupan beragama dan ketahanan budaya, pembangunan daerah, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi, serta pengelolaan lingkungan.

Karena itulah tulisan ini menekankan pada asas manfaat tentang bagaimana sebuah model kurikulum itu mempengaruhi proses pembelajaran di sekolah kita. Kehadirannya benar-benar sesuai dengan perkembangan yang terjadi di masyarakat dan bukan sekedar kebijakan sesaat seorang menteri pendidikan nasional yang kata orang ganti menteri pasti ganti kurikulumnya.

Pada tulisan ini akan dibahas pula bagaimana sebuah kurikulum itu mampu dikembangkan dan dikritisi oleh guru sendiri sebagai ujung tombak atau garda terdepan pendidikan bangsa ini. Sehingga apa yang terjadi dalam proses pendidikan kita terlihat jelas dari kacamata seorang guru yang mendidik anak bangsa ini dengan penuh ketulusan. Mereka selalu bertanya pada dirinya what is wrong in Indonesian Classroom? Sehingga mereka selalu berjiwa inovatif dan bertindak kreatif dalam menyusun kurikulumnya sendiri yang pada akhirnya akan mengantarkan mereka untuk melaksanakan proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM).

Dalam rangka mengaplikasikan apa yang telah dicanangkan oleh UNESCO melalui learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together para guru dan pengelola pendidikan dituntut mampu berkontribusi dalam menyusun kurikulum bangsa ini kearah yang lebih baik. Sesuai dengan harapan bahwa yang dibutuhkan di masa depan adalah kurikulum yang mampu memberikan keterampilan dan keahlian bertahan hidup dalam perubahan, pertentangan, ketidakmenentuan, ketidakpastian, dan kesulitan dalam kehidupan. Oleh karena itu kurikulum secara berkelanjutan disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara nasional. Penyempurnaan kurikulum dilakukan secara responsif terhadap penerapan hak asasi manusia, kehidupan demokratis, persatuan dan kesatuan, kepastian hukum, kehidupan beragama dan ketahanan budaya, pembangunan daerah, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dan komunikasi, serta pengelolaan lingkungan.

Semoga sistem pendidikan nasional kita mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga mampu melakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan yang salah satunya melalui pembuatan kurikulum yang terbaik dan dibuat oleh bangsa itu sendiri.

Daftar Pustaka:
1. Indratno, A. Ferry T., Kurikulum Beridentitas Kerakyatan dalam Kurikulum yang Mencerdaskan, Visi 2030 dan Pendidikan Alternatif, Jakarta: Kompas, 2007.
2. Mulyasa, E., Kurikulum Berbasis Kompetensi: Konsep, Karakteristik, Implementasi dan Inovasi, Bandung: Remaja Rosdakaraya, 2004.
3. Moh. Yamin, Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan: Panduan Menciptakan Manajemen Mutu Pendidikan Berbasis Kurikulum yang Progresif dan Inspiratif, Jogjakarta: Diva Press, 2009.
4. Nasution, S., Azas-Azas Kurikulum, Jakarta: Bumi Aksara, 2003.
5. Rahmadhi, Slamet, Masalah Pendidikan di Indonesia, Jakarta: CV Miswar, 1989.
6. Rosyada, Dede, Paradigma Pendidikan Demokratis: Sebuah Model Pelibatan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan, Jakarta: Kencana, 2004.
7. Suparman, M. Atwi, Konsep Dasar Pengembangan Kurikulum, Jakarta: PAU-PPAI, Universitas Terbuka, 2001.
8. Widiastono, Tonny D., Pendidikan Manusia Indonesia, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2004.
9. Yulaelawati, Ella, Kurikulum dan Pembelajaran: Filosofi, Teori dan Aplikasi, Bandung: Pakar Raya, 2004.
10. Zais, Robert S., Curriculum: Principles and Foundations. New York: Harper & Row, Publisher, 1976.
11. Zamroni, Paradigma Pendidikan Masa Depan, Yogyakarta: BIGRAF Publishing, 2000.

This entry was posted in Kurikulum and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s