Pengembangan Desain Perencanaan Pendidikan

Pada dasanya Desain perencanaan pendidikan merupakan bangunan utuh dari pada rencana pendidikan yang terdiri dari barbagai unsur yang terdapat dalam rencana pendidikan itu sendiri, diantaranya adalah model perencanaan itu sendiri, kemudian metode perencanaan, proses perencanaan, dan karakteristik perencanaan. Kesemuannya akan kami jelaskan sebagai berikut;
1. Model Perencanaan Pendidikan
Ada beberapa model perencanaan pendidikan, diantaranya sebagai berikut:
a. Model komprehensif : model ini dipergunakan untuk menganalisis perubahan-perubahan dalam sistem pendidikan secara menyeluruh. Selain itu model ini juga dijadikan sebagai pedoman dalam menguraikan rencana-rencana yang lebih kusus kearah tujuan yang lebih luas.
Perencanaan harus bersifat komprehensif, artinya melihat masalah pendidikan sebagai keseluruhan. Setiap aspek pendidikan perlu mendapatkan perhatian sewajarnya baik formal maupun non formal, baik pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi dalam arti yang seluas-luasnya, misalnya mengenai pembiayaan dan sumber-sumbernya, fasilitas pendidikan dan sebagainya. Dan biasanya karena alasan terbatasnya biaya, personel dan fasilitas dan adanya pembinaan secara khusus terhadap satu atau dua aspek yang telah ditentukan dan selalu mengaitkan dengan pengembangan aspek-aspek lain.

b. Model Costing (pembiayaan) dan keefektivitasan biaya : model ini digunakan untuk menganalisis proyek dengan kriteria efisiensi dan efektivitas. Dimana dengan model ini diharapkan dapat diketahui proyek mana yang paling layak atau yang terbaik dibandingkan dengan proyek yang lain.

Salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita dan negara-negara yang sedang berkembang pada umumnya adalah kekurangan biaya. Perencanaan pendidikan bertujuan agar biaya yang sedikit itu diinvestasikan seefisien mungkin, sehingga dapat meminalisir pemborosan pendidikan.

c. Model PPBS (Planing, Programming, budgeting system) : sistem perencanaan, pemograman, dan pereencanaan banyak digunakan di pendidikan tinggi negeri. Pendekatan ini merupakan suatu pendekatan yang komprehensif dan sistimatis yang berusaha menentukan tujuan, mengembangkan program-program untuk dicapai denan menggunakan anggaran yang seefesien dan seefektif mungkin dan mampu menggambrkan kegiatan program jangka panjang.
Adapun tujuan utama dari PPBS ini adalah: 1). Menjelaskan dan menguraikan goals dan objectives dari institusi, 2). Klasifikasi daripada pekerjaan-pekerjaan mengenai institusi tersebut dalam arti goals dan objectives, 3). Perbandingan antara biaya dan pengeluaran, 4). Alokasi dari resources pada suatu kegiatan, 5). Spesifikasi daripada output, 6). Explorasi dari beberapa pilihan atau kemungkinan untuk mencapai output yang sama, 7). Proyeksi dari suatu kegiatan melalui program perencanaan jangka panjang, dan 8). Revisi objectives, programms dan budgets berdasarkan suatu pengalaman dan perubahan lingkungan.
d. Model target setting : model ini digunakan untuk memperkirakan atau memproyeksi tingkat perkembangan dalam kurun waktu tertentu.

2. Metode Perencanaan
Menurut Smith secara umum ada delapan metode dalam perencanaan pendidikan,5 diantara delapan metode tersebut adalah:
a. Metode Analisis sumber-cara-tujuan: metode ini dipakai untuk meneliti sumber sumber dan alternatif untuk mencapai tujuan tertentu, dimana ada tiga fktor yang perlu dianalisis antara lain 1) sumber; 2) cara untuk mencapai tujuan, dan tujuan iu sendiri, ketiga faktor ini dikaji secara timbal balik
b. Analisis masukan keluaran: Metode ini dipakai untuk mengkaji faktor faktor input pendidikan yang mempengaruhi proses dan akibatnya terhadap keluarannya secara terinterelasi dan interdependensi, metode ini juga digunakan untuk menilai alternatif dalam proses transformasi.
c. Analisis ekonometrik : metode ini memakai data empiris, statistik dan teori ekonomi dalam mengukur perubahan dalam hubungannnya dengan ekonomi
d. diagram sebab akibat: metode ini digunakan dalam perencanaan yang menggunakan sekuen hiotetik untuk mendapatkan gambara masa depan
e. Delphi : metode ini digunakan untuk menentukan sejumlah program, mendapatkan asumsi atau fakta yang melandasi pertimbangan tertentu dengan mencari informasi yang dibutuhkan untuk mencapai konsensus, yang dimulai dengan memaparkan permasalahan yang bersifat umum kemudian dijabarkan kepada yang lebih kusus untuk dipecahkan masing-masing ahlinya
f. Heuristik : metode ini dipakai untuk mendaptkan isu-isu dan mengakomodasi pendapat yang bertentangan. Metode ini didasarkan atas prinsip dan prosedur yang mensistematiskanlangkah-langkah masalah
g. Analisis Siklus Kehidupan: metode ini dipakai untuk mengalokasikan sumberdaya dengan memperhatikan siklus kehidupan produksi atau lulusan, proyek pendidikan, program-program pendidikan, dan kegiatan pendidikan. Dalam metode ini memiliki tahapan yang meliputi :

1. Konseptualisasi
2. Spesifikasi
3. Pengembangan prototipe
4. Pengujian dan evaluasi
5. Operasional
6. Produksi atau lulusan
h. Analisis Nilai Tambah : Metode ini dipakai untuk mengukur keberhasilan peningkatan lulusan atau pelayanan pendidikan sihingga diperoleh gambaran kontribusi aspek tertentu terhadap aspek lainya.

3. Proses Perencanaan
Proses perencanaan pendidikan merupakan gambaran suatu siklus atau lingkaran kegitan perencanaan pendidikan yang berlangsung sepanjang waktu dan berulangkali. Secara umum proses perencanaan pendidikan meliputi sejumlah kegiatan, antara lain:

Menurut A.W.P. Guruge mengemukakan ada 6 kelompok tahapan perencanaan pendidikan, yaitu: 1). Pra perencanaan, 2). Perencanaan, 3). Formulasi rencana, 4). Elaborasi rencana, 5). Pelaksanaan rencana, dan 6). Evaluasi, revisi, dan perancangan ulang.

Dari hasil diskusi Penataran Perencanaan Pendidikan Tingkat I di Surabaya disimpulkan bahwa proses perencanaan pendidikan meliputi 11 kegiatan, yakni: 1). Pengumpulan dan pengolahan data, 2). Diagnosa/analisis, 3). Perumusan kebijakan, 4). Perkiraan masa depan, 5). Perumusan rencana, 6). Penetapan sasaran, 7). Penghitungan biaya, 8). Perincian rencana, 9). Implementasi rencana, 10). Evaluasi rencana, 11). Revisi rencana.

Menurut Banghart dan Trull (1973), perencanaan harus melalui tahap sebagai berikut: 1)..Pendahuluan, 2). Mengidentifikasi permasalahan pendidikan, 3). Analisis area perencanaan pendidikan, 4). Menyusun konsep dan rencana, 5). Menentukan rencana, 6). Penerapan rencana, dan 7). Rencana umpan balik.

Menurut Chesswas (1973) ada beberapa proses perencanaan pendidikan sebagai berikut: 1). Menilai kebutuhan akan pendidikan, 2). Merumuskan tujuan dan sasaran pendidikan, 3). Merumuskan kebijakan dan menentukan priorita, 4). Merumuskan proyek dan program, dan 5). Menguji kelayakan.

4. Karakteristik Perencanaan Pendidikan
Karakteristik dalam perencanaan pendidikan pada dasarnya merupakan salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dalam desain perencanaan pendidikan, hal ini dikarenakan karakteristik pendidikan merupakan sesuatu yang mendasari terbangunnya perencanaan yang baik. Menurut Gaffar (1978) memberikan atau mengidentifikasikan karakteristik perencanaan pendidikan Adalah sebagai berikut:8
(1) Harus mengutamakan nilai-nilai yang bersifat manusiawi
(2) Harus memberikan kesempatan untuk mengembangkan segala potensi peserta didik secara optimal
(3) Harus memberikan kesempatan paendidikan yang sama bagi semua peserta didik
(4) Harus bersifat komprehesif dan sistematis
(5) Harus berorientasi pada pengembangan pembangunan
(6) Harus dikembangkan dengan memperhatikan keterkaitan dengan berbagai komponen pendidikan secara sistematis
(7) Harus menggunakan sumber daya secermat mungkin
(8) Harus berorientasi pada masa yang akan datang
(9) Harus kenyal dan responsif terhadap kebutuhan yang berkembang di masyarakat, tidak statis tapi dinamis
(10) Harus merupakan sarana untuk mengembangkan inovasi pendidikan
5. Tujuan perencanaan Secara Umum
Kalau boleh menambahkan, di dalam desain perencanaan pendidikan sebetulnya ada unsur yang perlu di masukkan, yaitu tujuan dari pada perencanaan itu sendiri, adapun tujuan dari perencanaan itu sendiri adalah sebagai berikut :
Pada umumnya perencanaan pendidikan bertujuan sebagai berikut
(1) Strandar pengawasan, yaitu mencocokkan perencanaan dengan pelaksanaan dilapangan
(2) Mengetahui kapan pelaksanaan dan selesainya suatu kegiatan.
(3) Mengetahui siapa yang terlibat (struktur organisasinya, baik kualifikasinya maupun kuantitasnya)
(4) Mendapatkan kegiatan yang sistematistermasuk biaya dan kualitas pekerjaan.
(5) Meminimalkan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif dan menghemat biaya, tenaga da waktu.
(6) Memberikan gambaran yang menyeluruh mengenai kegiatan pekerjaan.
(7) Menyerasikan dan memadukan beberapa sukegiatan.
(8) Mendeteksi hambatan kesulitan yang mungkin ditemukan
(9) Mengarahkan pada pencapaian tujuan.

About these ads
This entry was posted in Manajemen Pendidikan and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s